Laman

PDCA (Plan, Do, Check, Action) Versi Sederhana

PDCA atau Plan, Do, Check, Action adalah metode yang umum yang digunakan untuk pengendalian mutu, peningkatan/perbaikan proses bisnis, atau pemecahan masalah. Metode ini dipopulerkan oleh W. Edwards Deming, bapak pengendalian kualitas modern, sehingga sering disebut juga sebagai siklus Deming.

 
http://qccindonesia.files.wordpress.com/2009/10/pdca.jpg?w=460

 
Siklus PDCA ini sudah lama diterapkan di negara-negara maju. Kunci keberhasilan penerapan metode ini terletak di kesungguhan dan disiplin dalam pelaksanaannya. Banyak perusahaan-perusahaan besar di negara ini yang serius menerapkan metode ini sebagai kunci dari kesuksesannya. Tetapi apakah metode ini sudah merakyat di negeri ini?

Saya tidak akan membahas secara lengkap metode ini karena memang saya bukan ahlinya. Saya akan membahasnya secara sederhana saja, yaitu versi sederhana, versi saya. Menurut saya pribadi, jangankan siklus PDCA secara lengkap dan berkesinambungan, bahkan fungsi P saja mungkin kita belum bisa melakukan dengan benar.

Seringkali kita merasa malas kalau disuruh membuat rencana. Banyak alasannya, antara lain: langsung saja dikerjakan nggak usah terlalu banyak rencana, atau buang-buang waktu saja toh nanti pasti pelaksanaannya meleset jauh, atau beribu alasan lain. Akhirnya kitapun membuat rencana secara asal-asalan saja yang penting ada. Ini adalah suatu mental yang sangat disayangkan, karena rencana yang matang pasti akan sangat banyak membawa kemudahan. Rencana memang tidak harus tepat 100%, tetapi tetap harus dikerjakan secara sungguh-sungguh. Demikianlah sikap profesional itu. Dan itulah yang membedakan antara yang maju dengan yang terbelakang. Karena rencana yang asal-asalan pasti akan menimbulkan banyak pemborosan dalam pelaksanaannya.

Contoh sederhana: Apabila kita hendak pergi mengunjungi beberapa tempat, pasti kita akan merencanakan urut-urutan termudahnya. Karena apabila tidak, maka akan banyak terjadi pemborosan waktu, tenaga, dan bensin akibat jalannya yang bolak-balik tidak karuan. Contoh lain dari kurangnya budaya perencanaan adalah di lingkungan pemerintahan. Bagaimana mungkin jalan yang sama berkali-kali dibongkar untuk berbagai macam proyek mulai dari irigasi, PDAM, dan entah apa lagi. Bukankah itu benar-benar pemborosan terhadap uang negara yang berarti uang rakyat juga? Begitu sulitnyakah melakukan koordinasi dan perencanaan di birokrasi pemerintahan?

Metode siklus PDCA sangat bermanfaat untuk diterapkan baik di level pemerintahan, perusahaan, atau bahkan di level individu. Tetapi bagaimana mungkin bisa menerapkan siklus PDCA secara benar, kalau baru sampai P saja sudah macet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Ke Atas]