Laman

Menertawakan Diri Sendiri

Menertawakan Diri Sendiri

Barang Siapa Bisa Menertawakan Diri Sendiri
Maka Dunia Akan Tertawa Bersamanya

Barang Siapa Tidak Bisa Menertawakan Diri Sendiri
Maka Dunia Akan Menertawakannya

Barang Siapa Biasa Menertawakan Diri Sendiri
Maka Hidup Akan Penuh Dengan Tawa

Barang Siapa Tidak Biasa Menertawakan Diri Sendiri
Maka Hidup Akan Penuh Dengan Derita

Barang Siapa Yang Ringan Saja Menertawakan Diri Sendiri
Maka Tidak Ada Yang Bisa Menertawakannya

Barang Siapa Yang Berat Menertawakan Diri Sendiri
Maka Banyak Yang Akan Menertawakannya Di Belakang Punggungnya

Maka
Tertawalah Sebelum Kamu Ditertawakan
Hahahaha
Hihihihi
Hehehehe
Hohohoho

Hambatan dalam Berkonsentrasi

TTP (8) - Pikiran

Dalam setiap upaya pasti ada hambatannya, demikian pula di dalam melakukan konsentrasi perenungan terhadap pikiran. Seorang perenung harus memusatkan perhatiannya terlebih dahulu kepada hambatan-hambatan tersebut. Tanpa melakukan perhatian khusus, maka hambatan-hambatan tersebut akan sulit untuk dideteksi dan dilampaui. Hambatan konsentrasi tersebut biasanya karena tiga hal: Hal-hal yang mengikat pikiran, hal-hal yang menarik perhatian pikiran, dan hal-hal yang mengganggu pikiran.

Hal-hal yang mengikat pikiran antara lain adalah: keluarga, teman, orang-orang yang menjadi tanggung jawab, pekerjaan, kebutuhan, kepemilikan barang, dan kemampuan khusus. Keluarga, teman, dan orang-orang yang menjadi tanggung jawab seperti anak buah atau murid, pasti akan sangat menyita pikiran karena adanya hubungan batin yang erat. Pekerjaan dan kebutuhan juga sangat menyita pikiran karena banyaknya keterlibatan dengan orang lain. Kepemilikan barang jelas juga menyita perhatian, terutama karena adanya ketakutan akan kehilangan atau kerusakan barang-barang tersebut. Kemampuan khusus adalah yang paling mengikat pikiran, ini karena kemampuan khusus biasanya sulit diperoleh dan tidak semua orang bisa, oleh karena itu akan timbul perasaan yang kuat agar kemampuan khusus ini bisa diketahui dan dihargai oleh orang banyak. Keterikatan pikiran ini bisa diatasi dengan melepaskan keterikatan terhadap hal-hal tersebut.

Hal-hal yang menarik perhatian pikiran antara lain adalah: hobi, makanan, buku-buku bacaan, petualangan dan perjalanan, kegiatan pengerjaan bangunan, dan sebagainya. Semua hal tersebut tidaklah terlalu mengikat pikiran, akan tetapi tetap menyita pikiran karena faktor ketertarikan tertentu. Contoh adalah kegiatan pengerjaan bangunan, biasanya kegiatan ini sudah direncanakan di depan dan sudah ada penanggung jawab pekerjaannya. Akan tetapi karena beberapa hal, misalnya takut bahwa pengerjaannya tidak sesuai dengan rencana yang diinginkan, maka sang pemilik bangunan akan sering menyempatkan waktunya untuk langsung melihat ke lapangan, apabila memungkinkan. Ketertarikan pikiran ini bisa diatasi dengan tidak memperhatikan kegiatan-kegiatan yang berhubungan hal-hal tersebut.

Hal-hal yang mengganggu pikiran antara lain adalah: kebisingan, bau busuk, hawa panas, dan semua kondisi lingkungan yang kurang kondusif, dan yang terutama adalah gangguan dari dalam berupa penyakit. Gangguan penyakit adalah gangguan yang paling umum dihadapi oleh seorang perenung. Bahkan setelah hambatan-hambatan lain dalam berkonsentrasi bisa diatasi dan dikondisikan, seringkali hambatan penyakit masih menjadi suatu hambatan yang tidak bisa dihilangkan seumur hidup. Untuk itu diperlukan suatu perlakuan khusus atau cara pandang khusus agar penyakit tidak menjadi hambatan lagi dalam berkonsentrasi melakukan perenungan, bahkan penyakit bisa dijadikan suatu motivasi untuk melakukan suatu perenungan yang dalam.

Hambatan-hambatan dalam berkonsentrasi dalam perenungan terhadap pikiran biasanya sulit dikenali karena sudah dianggap sesuatu yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu seorang perenung harus memberikan perhatian khususnya terhadap hambatan-hambatan ini. Sulit bagi seorang perenung untuk mencapai suatu perenungan yang dalam jika belum bisa melampaui semua hambatan-hambatan tersebut. Kunci utama dari mengatasi hambatan-hambatan tersebut adalah sikap hidup yang penuh keikhlasan dan kepasrahan, yang tentu saja dalam arti yang positif aktif.

Referensi: sebuah buku tipis
Artikel terkait:

Perenungan terhadap Pikiran
TTP (1)

Perenungan terhadap Pikiran

TTP (7) - Pikiran

Setelah kualitas dari perbuatan meningkat ke level yang sesuai, maka perenungan dapat ditingkatkan ke perenungan terhadap pikiran. Perenungan terhadap pikiran ini cukup sulit dilakukan karena manusia cenderung menyamakan dirinya dengan pikirannya, cogito ergo sum. Sedangkan untuk bisa melakukan pengamatan yang baik, maka harus ada jarak dengan objek yang diamati. Mengamati pikiran sebagai objek perenungan membutuhkan ketekunan dan kesabaran ekstra untuk melatihnya, untuk memisahkan diri dari pikirannya.

Pikiran adalah bagian yang paling aktif dari diri manusia, sehingga juga bagian yang paling sulit untuk dikendalikan. Pikiran dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan kecepatan jauh melebihi kecepatan cahaya. Pikiran dapat menjangkau hal yang paling kecil, dan berpindah ke sesuatu yang besar dalam sekejap mata. Pikiran bahkan masih aktif di saat tubuh dan jiwa beristirahat, di saat tidur. Keaktifan pikiran ini membutuhkan energi, karena berhubungan dengan pergerakan sel-sel otak. Pikiran yang terlalu aktif, akan sangat melelahkan dan sangat menguras energi, bahkan bisa menimbulkan penyakit fisik. Apalagi jika keaktifan pikiran ini diikuti oleh pergerakan fisik, kelelahan yang diakibatkan bisa berlipat-lipat.

Bagi orang yang sudah terbiasa melakukan perenungan terhadap pikiran, maka pergerakan pikiran dapat diamati, ditandai, dan dikendalikan. Kemampuan mengendalikan pikiran juga sangat bermanfaat untuk mengistirahatkan pikiran, demi kesehatan dan menjaga kualitas hidup. Perenungan dan pengendalian terhadap pikiran ini dilakukan dengan jalan konsentrasi. Pada umumnya konsentrasi dilakukan dengan mengikat pikiran kepada satu titik fokus. Dengan memandang objek tertentu, baik secara nyata maupun dengan mata terpejam, dalam jangka waktu tertentu.

Suatu amalan ibadah umumnya sudah mencakup unsur pengendalian terhadap pikiran ini. Beberapa amalan ibadah mensyaratkan posisi tubuh tertentu, karena memang pikiran sangat berhubungan dengan badan. Diamnya pikiran sulit dicapai tanpa diamnya tubuh, dan bagian tubuh yang paling berkaitan dengan gerakan pikiran adalah mata. Oleh karena itu seringkali konsentrasi dilakukan dengan mengikat pandangan mata ke satu titik, biasanya adalah ujung hidung.

Beberapa amalan ibadah juga menggabungkan unsur diam, gerakan, dan ucapan, dengan tujuan tertentu. Konsentrasi difokuskan kepada ucapan, dan tidak boleh lepas karena gerakan. Dilibatkannya unsur gerakan, salah satu tujuannya, adalah agar perenungan dan pengendalian pikiran ini mampu dilakukan bukan hanya di saat melakukan amalan ibadah itu saja, tetapi juga mampu dilakukan di kehidupan sehari-hari yang penuh dengan gerakan. Tetapi unsur utama dalam suatu amalan ibadah adalah diam, karena itu sangat tidak disarankan melakukan amalan ibadah dengan tergesa-gesa, karena itu akan sangat mengurangi manfaatnya.

Melakukan perenungan terhadap pikiran akan meningkatkan kualitas dari pikiran, dan peningkatan kualitas pikiran secara keseluruhan akan meningkatkan kualitas dari perenungan yang lebih dalam lagi.

Referensi: sebuah buku tipis.

Artikel terkait:
TTP (6) - Perbuatan: Tingkatan Amalan Ibadah
TTP (1)


Tingkatan Amalan Ibadah

TTP (6) - Perbuatan

Seorang perenung akan sangat menjunjung tinggi amalan ibadah. Amalan ibadah yang dilakukan dengan benar akan mempengaruhi kualitas perbuatan dari seseorang secara keseluruhan. Perbaikan kualitas perbuatan akan meningkatkan kualitas pikiran, dan peningkatan kualitas pikiran akan meningkatkan kualitas perenungan, dan demikian seterusnya menjadi sebuah siklus positif.

Karena pentingnya sebuah amalan ibadah, maka biasanya amalan ibadah dibungkus dengan ‘malu’ dan ‘takut’, agar manusia tidak meremehkannya. Aturan-aturan khusus ditetapkan untuk memberikan efek malu, dan juga ancaman-ancaman tertentu supaya takut jika mengabaikannya. Itu semua agar manusia mau melakukan amalan ibadah dengan benar, agar bisa mendapatkan manfaatnya. Tetapi bagi manusia yang bijaksana, maka amalan ibadah tidaklah dilakukan secara terpaksa, tetapi dengan sukarela bahkan penuh semangat, karena menyadari manfaat pentingnya.

Amalan ibadah sendiri didefinisikan sebagai ritual dengan tata cara tertentu, dengan gerakan dan ucapan tertentu. Amalan ibadah salah satu tujuan utamanya adalah untuk pengendalian jasmani dan pengendalian ucapan. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari seseorang yang biasa melakukan amalan ibadah dengan benar, akan biasa pula melakukan perbuatan yang benar, dan mencegah tingkah laku dan perkataan yang tidak benar. Amalan ibadah biasanya bersifat pengulangan, sehingga tanpa sadar secara otomatis seseorang akan menerima dan melaksanakan apa yang dimaksud dalam amalan ibadah tersebut.

Ada beberapa tingkatan dari amalan ibadah:
Amalan ibadah bagi orang umum. Ini adalah amalan ibadah minimal yang biasanya disebut sebagai ibadah wajib.


Amalan ibadah tambahan. Ini adalah amalan ibadah tambahan dari amalan ibadah wajib, dan masih bersifat umum dimana setiap orang boleh melakukannya. Amalan ibadah tambahan ini biasanya untuk orang-orang yang sudah menginginkan lebih dari sekedar kehidupan duniawi belaka, misalnya untuk mencapai surga.


Amalah ibadah khusus. Amalan ibadah ini biasanya bersifat spesifik untuk orang tertentu saja. Jenis amalan ibadahnya bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Tidak jarang yang amalan ibadahnya bersifat rahasia, tidak boleh diketahui orang lain, apalagi sampai dengan sengaja ditunjuk-tunjukkan. Amalan ibadah ini biasanya diberikan oleh seorang guru spiritualis, ataupun melalui jalan khusus lainnya seperti mimpi atau ilham. Amalan ibadah ini adalah untuk orang-orang yang sudah tidak menginginkan kehidupan duniawi lagi, tetapi bukan dalam arti menolak, melainkan tetap menjalani sebagaimana kodratnya masing-masing.


Amalan ibadah tanpa batas. Amalan ibadah ini adalah untuk orang-orang yang sudah mencapai tahapan kesucian, seperti para nabi dan wali. Bagi mereka, maka tidak ada sesuatupun yang tidak bernilai ibadah. Hidup sehari-hari bahkan sampai ke aspek terkecilpun seperti bernafas, semuanya adalah suatu amalan ibadah. Dalam banyak cerita dikatakan bahwa, bahkan detak jantung merekapun bernilai suatu amalan ibadah.

Perenungan dan pemahaman tentang tingkatan amalan ibadah ini perlu diketahui agar orang mau menjalankan suatu amalan ibadah, walaupun masih dalam tahap malu dan takut. Setiap orang hendaknya mempunyai cita-cita untuk selalu bisa meningkatkan amalan ibadahnya, agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Dengan perbuatan yang lebih baik dari waktu ke waktu. Dengan demikian selesailah pembahasan tentang perenungan terhadap perbuatan, dan pembahasan selanjutnya adalah tentang perenungan terhadap pikiran.

Referensi: sebuah buku tipis

Artikel terkait:
TTP (5) - Perbuatan: Sensasi dan Perasaan
Tujuh Tingkat Perenungan (1)

Sensasi dan Perasaan

TTP (5) - Perbuatan
 
Indera-indera yang dimiliki manusia menghasilkan sensasi-sensasi yang kemudian diolah di pikiran, dan kemudian diubah menjadi perasaan-perasaan di dalam dada. Reaksi manusia terhadap perasaan-perasaan ini bisa berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan inilah yang menjadikan karakteristik manusia satu berbeda dengan manusia lainnya.
 
Agar pengamatan terhadap sensasi dan perasaan ini bisa berjalan secara murni, maka manusia harus mengambil jarak tertentu terhadap sensasi dan perasaan tersebut. Ibarat orang yang membaca, terlalu dekat ataupun terlalu jauh dari obyek yang dibaca akan menyebabkan pengamatan yang tidak jelas dan tidak fokus. Seorang perenung harus bisa memisahkan dirinya dari sensasi dan perasaan yang ditimbulkan indra-indranya. Tidak boleh terlalu larut dalam suatu sensasi dan perasaan, juga tidak boleh terlalu jauh.
 
Tugas seorang perenung adalah menandai segala bentuk sensasi dan perasaan yang terjadi. Bukan hanya sekedar mengamati, karena mengamati saja akan menimbulkan jarak terlalu jauh sehingga menjadi kurang efektif. Juga tidak boleh terlalu dekat karena bisa mengacaukan pengamatan, tetapi cukup menandai dengan netral semua sensasi dan perasaan yang terjadi. Ada tiga macam penandaan terhadap sensasi atau perasaan:
  1. Perasaan yang menyenangkan. Perasaan ini akan menimbulkan keinginan untuk pengulangan. Ketidakmampuan menandai perasaan ini bisa mengakibatkan timbulnya keserakahan.
  2. Perasaan yang tidak menyenangkan. Perasaan ini menimbulkan keinginan untuk menghindari. Ketidakmampuan menandai perasaan ini bisa mengakibatkan timbulnya kebencian.
  3. Perasaan yang diabaikan. Sesuatu yang bukan-menyenangkan dan bukan tidak-menyenangkan akan cenderung diabaikan. Jika perasaan yang diabaikan adalah perasaan yang penting, maka mengabaikan perasaan ini akan mengakibatkan ketidak pekaan. Ketidakmampuan menandai perasaan ini bisa mengakibatkan pencitraan diri yang salah, pengertian yang salah, ataupun kebodohan.
Pencitraan yang salah adalah sesuatu yang sukar disadari oleh seseorang, terutama karena ini termasuk akibat dari perasaan yang cenderung diabaikan. Seseorang senang mencitrakan dirinya dengan sosok tertentu, atau kualitas tertentu. Di satu sisi ini adalah bagus sebagai cara memotivasi diri, tetapi di lain sisi ini bisa menjadi penyangkalan terhadap potensi diri yang asli, potensi diri yang sesungguhnya. Pencitraan diri yang salah bisa berkembang menjadi kepalsuan diri, bahkan kemunafikan yang akut, yang akan semakin sulit untuk disadari dan diluruskan kembali. Tetapi dengan penuh kesadaran, seseorang yang biasa menandai dalam batinnya setiap objek atau sensasi yang muncul dari pintu-pintu indra, maka orang tersebut akan dapat sedikit demi sedikit membebaskan dirinya dari keterikatan terhadap pencitraan yang salah ini.
 
Adapun kebodohan dan pengertian yang salah adalah hal yang umum yang terjadi akibat dari mengabaikan perasaan-perasaan yang dianggap tidak penting. Pada dasarnya tidak ada perasaan yang tidak penting, semua perasaan adalah penting. Semakin dalam tingkat perenungan seseorang, maka perasaan sekecil apapun menjadi penting untuk dicatat. Bukankah biasanya orang tersandung oleh batu yang kecil, dan bukan oleh batu yang besar? Kebodohan adalah akibat dari ketidak pedulian, sedangkan pengertian yang salah adalah akibat dari kekurang pekaan, dan keduanya muncul dari ketidak mampuan untuk mengetahui apa yang seharusnya diketahui. Maka membiasakan diri untuk menandai dalam batin terhadap setiap objek yang muncul dari keenam pintu indra akan sangat menolong dalam mengusir kecenderungan terhadap kebodohan dan kesalahan pengertian ini.
 
Sekali lagi, perenungan terhadap perbuatan, baik itu terhadap perbuatan khusus atau amalan, maupun terhadap alat-alat untuk melakukan perbuatan, yaitu indra-indra manusia, akan meningkatkan kualitas dari perbuatan itu sendiri. Dan selanjutnya peningkatan kualitas perbuatan, akan meningkatkan kualitas pikiran. Dan akhirnya peningkatan kualitas pikiran akan meningkatkan kualitas dari perenungan itu sendiri. Dan ini akan membentuk suatu efek spiral positif yang akan membawa manusia menjadi lebih baik.
 
Referensi: sebuah buku saku tipis.

Jiwa, Pikiran, dan Badan

TTP (4) - Perbuatan

Dikatakan bahwa jiwa, pikiran, dan badan itu saling berhubungan, kait mengkait satu sama lain. Apa yang terjadi di jiwa akan berpengaruh di pikiran dan badan. Apa yang terjadi di badanpun akan mempengaruhi pikiran dan jiwa, sebagaimana yang sering disebut-sebut ‘men sana in corpore sano’. Jiwa dikatakan sebagai dasar pembentuk makhluk, karena adanya jiwa maka badan terbentuk, dan dengan ketiadaan dari jiwa maka badan akan tercerai berai. Sedangkan pikiran yang membentuk detail-detail pembedanya.

Pikiran adalah yang paling aktif, bahkan pada saat tidur dimana badan dan jiwa beristirahat, pikiran masih bekerja sebagai mimpi. Hanya pada saat tidur yang dalam, pikiran akan ikut beristirahat. Karena keaktifan pikiran tersebut, maka dikatakan bahwa sebagian besar penyakit timbul dari kesalahan pemikiran. Kesehatan badan sangat tergantung dari kesehatan pikiran dan jiwa, ataupun sebaliknya, karena memang hal itu berlaku secara timbal balik. Karena dominannya peranan dari pikiran, maka kualitas perenungan sangat dipengaruhi oleh kondisi dari pikiran tersebut. Sedangkan perbuatan sendiri adalah suatu pengejawantahan dari suatu pikiran. Karena itulah dikatakan bahwa dasar utama dari perenungan yang baik terletak pada pengendalian pikiran dan perbuatan.

Seorang perenung yang sudah biasa melakukan suatu amalan perbuatan dengan tekun, konsisten, penuh kesungguhan dan konsentrasi, maka kemampuan mengendalikan perbuatannyapun akan meningkat. Dan ini akan diiringi dengan peningkatan dari pengendalian pikiran. Jika ini sudah tercapai, maka saatnya untuk meningkatkan ke tahapan ke dua yaitu: Menjaga kebersihan dan kesucian dari panca indera beserta pintu-pintunya. Perbuatan adalah pernyataan dari pikiran yang diekspresikan ke dunia nyata, dan badan adalah alat dari pikiran untuk melakukan perbuatan. Oleh karena itu menjaga kebersihan dan kesucian badan akan berpengaruh terhadap kemampuan dalam mengendalikan perbuatan.

Menjaga kebersihan dan kesucian badan terutama dipusatkan kepada menjaga dan mengendalikan panca indra beserta pintu-pintunya. Pintu kelima indra adalah: mata, telinga, hidung, lidah, tubuh yang ditekankan kepada kedua lubang di bawah maupun tubuh secara keseluruhan, dan pintu yang tidak kasat mata yaitu pikiran itu sendiri. Seorang perenung harus memberikan perhatian khusus terhadap pintu-pintu tersebut. Dengan penuh kesadaran ia harus mencegah timbulnya noda-noda yang dicetuskan dari kesan-kesan indra. Sebagian besar dari noda-noda itu adalah berbentuk ‘keinginan’. Keinginan ini jika tidak diwaspadai maka akan menimbulkan banyak masalah lainnya seperti: segala macam keruwetan permasalahan baik yang besar maupun yang kecil, kesombongan baik yang besar maupun yang sangat halus, segala macam bentuk konflik diri seperti kemunafikan atau kepalsuan diri, dan segala bentuk dari kebodohan lainnya. Perenungan yang dalam terhadap kesucian indra dan pintu-pintunya ini akan meningkatkan tingkat kesadaran seseorang.

Referensi: sebuah buku saku tipis.

Artikel terkait:
TTP (3) - Perbuatan: Proses Vs Hasil Perenungan

Tujuh Tingkat Perenungan (1)

Proses vs Hasil Dari Perenungan

Tujuh Tingkat Perenungan (3) - Perbuatan

Niat yang benar, disertai dengan ketekunan dan kesabaran, akan membawa seseorang ke jalan yang benar. Istilah yang umum adalah ada kemauan pasti ada jalan. Seseorang yang telah menetapkan dirinya untuk menjadi seorang perenung, akan selalu menggunakan waktunya untuk merenungkan semua yang terjadi. Tidak ada satupun kejadian atau kegiatan yang lepas dari unsur perenungan. Kesadaran akan sebab akibat dari suatu perbuatanpun akan semakin meningkat, dan semakin jauh daya jangkauan dan daya nalarnya.

Hasil dari perenungan sendiri akan sangat bervariatif dari saat ke saat. Adakalanya perenungan singkat akan memberikan hasil yang luar biasa besar, atau yang sering dikatakan sebagai pencerahan. Adakalanya sebuah perenungan panjang seolah-olah tidak menghasilkan apa-apa, seakan-akan hanya berputar-putar di tempat saja. Tetapi apa yang kelihatan, bukan berarti itulah yang sesungguhnya atau bukan berarti itulah semuanya. Seringkali sesuatu yang kelihatan adalah hasil dari hal-hal yang tidak kelihatan. Seringkali suatu hasil itu ternyata akibat dari perbuatan-perbuatan sebelumnya yang seolah-olah tidak ada hubungannya sama sekali. Ibarat orang menebang pohon tanpa tahu setebal apa pohon itu. Berkali-kali tebasan seolah tidak menggoyahkan pohon itu. Tapi di lain waktu, hanya dengan satu tebasan pohonpun tumbang.

Adalah manusiawi jika seseorang menjadi jenuh melakukan sesuatu yang tampaknya tidak ada hasilnya. Dan tak jarang pula orang yang berhenti justru pada saat di ujung perjuangannya. Untuk mengatasi hal seperti ini, maka cara pandang terhadap proses dan hasil yang harus dirubah. Bahwa proses adalah lebih penting daripada hasil. Bahwa proseslah yang seharusnya menjadi tujuan, dan hasil hanyalah sekedar bonus belaka. Ibarat sebuah pohon, proses adalah batang utamanya yang harus selalu dikembangkan, sedangkan hasil adalah cabang, ranting, daun, dan buahnya, yang otomatis akan dihasilkan selama batang utamanya bagus. Sebuah proses perenungan tidaklah harus selalu menghasilkan suatu karya yangnyata. Tetapi karya yang nyata dengan sendirinya akan tercipta dari suatu proses perenungan, dimana karya nyata itu sangat tergantung kepada karakteristik manusianya, atau profesi manusianya masing-masing.

Proses harus yang menjadi tujuan dan proseslah yang harus berkembang. Dalam prakteknya, ini bisa tercapai jika seseorang bisa menemukan suatu kesenangan selama proses berjalan. Proses perenungan berarti berada di alam perenungan. Jika seseorang menikmati keberadaannya di alam perenungan, maka proses perenungan tidak akan pernah menjemukan. Alam perenungan justru menjadi suatu tempat tujuan yang selalu ingin dikunjungi. Maka segala bentuk hasilpun hanyalah sekedar bonus belaka. Perasaan senang di alam perenungan ini bukan berarti akan membuat seseorang lupa untuk berkarya di alam nyata. Justru sebaliknya, seseorang yang senang di alam perenungan, hasil karya nyatanya akan lebih maksimal, karena dilandasi oleh rasa keikhlasan yang tinggi dan murni.

Alam perenungan dan alam nyata berjalan paralel. Alam perenungan membuat pemahaman seseorang terhadap alam nyata semakin bermakna dan berwarna. Semakin dalam alam perenungan seseorang, semakin dalam pengertian seseorang tentang alam nyata, semakin bermakna, semakin berwarna. Inilah beda alam perenungan dengan alam khayalan, yang satu mendekatkan dengan alam nyata, yang satunya justru menjauhkan. Apalagi jika alam khayalan ini dibentuk dengan bantuan obat-obatan yang membuat kecanduan dan merusak fisik. Ungkapan agama adalah candu timbul dari ketidakpahaman terhadap kedua alam yang berbeda ini.

Dengan melakukan suatu amalan atau janji perbuatan baik tertentu yang disenangi, maka diri akan semakin terbiasa untuk berkonsentrasi terhadap salah satu jenis renungan. Kebiasaan perenungan tertentu ini akan memicu kemampuan untuk melakukan perenungan secara keseluruhan. Maka perenunganpun akan meningkat bukan hanya terhadap amalan yang ditekuni, melainkan juga terhadap seluruh perbuatan yang telah, sedang, maupun yang akan dilakukan. Seseorang akan semakin mengerti dengan segala sebab akibat dari semua perbuatannya sendiri. Sehingga dia menjadi semakin bisa memilih dan mengendalikan perbuatan mana yang akan dilakukan selanjutnya. Sehingga dia akan menjadi pribadi yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Perenungan terhadap perbuatan akan memperbaiki kualitas dari perbuatan, dan sebaliknya, perbaikan kualitas perbuatan akan memperbaiki kualitas dari perenungan. Dan selama tidak ada faktor-faktor lain yang mengganggu, maka proses timbal balik ini akan terus berlangsung menjadi suatu gerakan spiral positif, yang membawa seseorang ke arah yang lebih baik, saat demi saat.

Referensi: sebuah buku saku tipis.

Pentingnya Niat Dalam Perenungan

Tujuh Tingkat Perenungan (2) - Perbuatan

Setiap manusia pasti pernah melakukan perenungan. Sayangnya kebanyakan perenungan dilakukan padasaat seseorang itu ditimpa oleh suatu kegoncangan jiwa, sebagai contoh yang umum adalah kesedihan. Semakin besar goncangan, maka semakin dalam sebuah perenungan. Inilah sebabnya banyak seniman yang karyanya bagus hanya diawal-awalnya saja. Sesudah terkenal dan kaya, maka biasanya kebutuhan terhadap perenungan akan menurun drastis. Maka segala ilham dan inspirasipun menjauh dan menjadi dangkal.

Kedalaman suatu perenungan dapat dijaga dengan suatu ritual tertentu. Ritual ini bisa berupa amalan umum dari agama yang dianut oleh seseorang, ataupun dari sumber-sumber lain seperti dari guru spiritual. Amalan yang berasal dari ritual agama, selain ibadah yang diwajibkan, adalah sangat baik jika ditambah dengan suatu ritual amalan tambahan. Ritual ini tidak harus yang berat, bahkan sangat disarankan yang ringan saja, yang sekiranya mudah dan tidak kerepotan untuk dilaksanakan. Kuncinya adalah di ketekunan dan tidak terputusnya suatu amalan. Ibarat menggali sumur, maka penggalian sebaiknya dilakukan ditempat yang sama yang telah disarankan, dan dilakukan terus menerus tanpa putus, sedikit demi sedikit sampai bertemu dengan sumber air yang dicari. Amalan yang terputus-putus ibarat galian yang terkubur tanah kembali.

Kunci dari ketekunan amalan adalah di niat awalnya. Niat adalah bibit dari tekad. Tekad yang kuat akan meringankan amalan seberat apapun. Tetapi tekad ini naik turun kadarnya sesuai dengan kondisi mental dan fisik seseorang. Niat yang benar akan menjaga agar tekad tidak padam sama sekali pada saat di titik terendah. Tetapi tanpa niat yang benar, maka suatu tekad akan lenyap begitu saja biarpun tadinya begitu berkobar-kobar seolah-olah tidak akan bisa padam. Seiring dengan berjalannya waktu, maka amalan yang dikerjakan tanpa putus, akan mengangkat tekad seseorang ke level yang tinggi, bahkan tanpa disadarinya sendiri.

Pentingnya amalan bagi sebuah perenungan adalah untuk menyiapkan badan, pikiran, dan jiwa, sehingga siap untuk melakukan perenungan yang dalam. Ibarat membumbui daging yang akan dimasak, bumbu tidak akan meresap jika hanya dioleskan sekedarnya saja. Amalan ataupun goncangan jiwa ibarat memukul-mukul daging atau merebusnya sehingga lunak, agar bumbu bisa meresap. Suatu pelajaran hidup akan terjadi berulang-ulang sampai seseorang bisa mengambil hikmahnya, dan dinyatakan lulus untuk menuju pelajaran berikutnya. Karena itu lebih baik jika seseorang mau untuk menetapkan dirinya menjadi seorang perenung sejati, daripada harus menjadi perenung hanya pada saat ditimpa kegoncangan. Niat untuk menjadi perenung seumur hidup bukanlah untuk golongan manusia tertentu saja. Setiap manusia seyogjanya mau menetapkan dirinya untuk menjadi seorang perenung seumur hidupnya, dimulai dari saat ini, dimulai dengan menetapkan niat yang benar, dan diiringi dengan doa yang benar.

Referensi: sebuah buku tipis.

Tujuh Tingkat Perenungan

Tujuh Tingkat Perenungan (1)

Ke tujuh tingkat itu adalah perenungan terhadap: Perbuatan, Pikiran, Pengertian, Keraguan, Pemahaman, Kebenaran, dan Kebebasan.
 
Perenungan Terhadap Perbuatan:
 
Ibarat sebuah pohon, maka perenungan juga memerlukan suatu dasar atau akar yang kuat. Dasar dari suatu perenungan adalah Perbuatan Yang Benar dan Pikiran Yang Benar. Suatu perenungan akan sulit dilakukan apabila perbuatan dan pikiran tidak dipelihara dengan baik, tidak akan ada kemajuan dalam perenungan tersebut.

Yang paling mendasar terhadap suatu perenungan adalah menjaga perbuatan yang sesuai. Empat hal yang harus dijaga dari suatu perbuatan adalah:
  1. Jika sudah bertekat untuk melaksanakan suatu amalan atau janji perbuatan terhadap diri sendiri, maka itu harus dipenuhi dan ditaati. Setiap bentuk pengingkaran akan menunjukkan suatu ketidak sungguhan yang akan mempersulit kelurusan dan kemurnian dari suatu perenungan. Janji amalan harus dipegang teguh seperti melindungi nyawa sendiri.
  2. Menjaga kebersihan dan kesucian panca indra beserta pintu-pintunya.
  3. Hidup dengan benar, dalam arti kata mentaati segala peraturan yang ada.
  4. Hidup sederhana, menggunakan segala sesuatu seperlunya saja, atau sesuai dengan kebutuhan, zuhud.
Dengan menjaga keempat hal di atas, diharapkan seseorang akan bebas dari permasalahan duniawi yang tidak perlu. Sang perenung akan menjadi perenung yang netral, tidak condong ke kiri atau ke kanan, menerima dan menganalisa apa adanya, tidak terikat dan juga tidak menolak sesuatu, murni. Dengan menjaga diri dari permasalahan yang tidak perlu, maka hidup menjadi lebih terang, pandangan dan pikiran menjadi lebih terang, badanpun menjadi ringan, batin penuh kepuasan, merasakan suatu kebebasan yang sangat berbeda dengan kebebasan karena suatu kepemilikan, yang sebenarnya justru merupakan suatu ikatan.
 
Perenungan yang dilakukanpun akan menjadi semakin dalam, semakin memberi manfaat pada kehidupan seseorang sekarang, maupun nanti.
 
 
Referensi: sebuah buku tipis.

Menulis

Banyak sekali manfaat menulis, antara lain: mengasah otak, meningkatkan kreativitas, memperluas wawasan, menambah ilmu, melapangkan dada, menghilangkan galau, meringankan pikiran, menghibur, beribadah, menambah pahala, menyebar manfaat, melegakan perasaan, mencari solusi, meninggalkan jejak, agar eksis, dokumentasi, pengembangan diri, self-healing, meditasi, berbagi, hobi, menggapai cita-cita, mata pencaharian, menjadi kaya, silaturahmi, mencari teman, dan masih banyak lainnya. Terkadang keburukan menulis juga ada, yang paling umum adalah mendapat musuh baru, tetapi tetap lebih banyak manfaatnya.

Menulis membantu pikiran untuk mengeluarkan ide-ide lama, dan mengosongkan ruang agar bisa menerima ide-ide baru. Pikiran adalah jembatan jiwa dan badan. Segala ide dan kebaikan yang berada di pikiran akan berpengaruh di jiwa dan badan. Karena manusia selalu berkembang, maka setelah ide dan kebaikan lama terserap di jiwa dan badan, maka pikiran sebaiknya dikosongkan kembali agar bisa diisi dengan ide dan kebaikan yang baru, yang lebih baik. Agar jiwa dan tubuh bisa mendapatkan manfaat yang lebih. Dan menulis adalah salah satu teknik mengosongkan pikiran. Bukan kosong yang pasif, tetapi kosong yang aktif, kosong dengan penuh kesadaran.

1 Jari Menunjuk Orang Lain, 3 Ke Diri Sendiri, Jempol Kemana?

Ungkapan di atas sering disebut-sebut sebagai pengingat agar orang tidak mudah-mudah menyalahkan orang lain, sebelum introspeksi dirinya sendiri. Tetapi ungkapan yang umum adalah ‘1 jari menunjuk orang lain, dan 4 jari menunjuk diri sendiri’, jarang yang ‘1 jari menunjuk orang lain, 3 jari menunjuk diri sendiri.’ Mana yang benar, inilah gambarnya:



Yang benar adalah 1 jari menunjuk ke depan, 3 jari menunjuk diri sendiri, dan 1 jari lagi (jempol) menunjuk ke depan agak bergeser. Penafsirannya kira-kira adalah: Lihatlah diri sendiri minimal 3 kali sebelum menunjuk orang lain, jangan-jangan diri sendiripun memiliki apa yang akan ditunjuk tersebut. Jempol menunjuk ke depan agak ke samping, bisa diartikan bahwa bisa jadi orang yang ditunjuk melakukan sesuatu itu karena pengaruh lingkungan, bukan semata-mata kesalahannya sendiri.

Contoh menarik dari tunjuk menunjuk adalah tentang fanatisme. Ada orang-orang yang sangat menentang fanatisme sampai-sampai tidak sadar kalau merekapun ternyata fanatik terhadap anti-fanatisme. Begitu fanatiknya sampai sanggup berdebat berhari-hari pantang menyerah. Tapi ini hanya contoh belaka.

…….

Bergeser topik, bagaimana dengan memberikan pujian yang biasanya dengan mengacungkan jempol?



Jempol mengarah ke atas yang berarti bahwa pada dasarnya semua pujian adalah milik Tuhan semata. Keempat jari digenggam erat berarti seseorang tidak boleh menyimpan keinginan untuk dipuji, dan memuji orang lain harus setulus hati. Bagaimana menurut penafsiran anda?

Teori Sederhana tentang Hidup dan Belajar

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmullah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (96:1-5)

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (31 : 27)

Dari dua ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa tugas utama manusia adalah untuk belajar. Andaikata seluruh hidup manusia dihabiskan untuk belajar, itupun sama sekali tidak cukup untuk memetik sedikit ilmuNya. Tidaklah layak bagi seorang manusia untuk merasa bahwa dirinya sudah memiliki cukup ilmu sehingga merasa tidak perlu belajar lagi. Belajar adalah mulai dari ayunan sampai ke liang lahat. Dan segala kegiatan lain, termasuk bekerja dan mengajar, adalah berada di sela-sela kegiatan belajar atau seharusnya mengandung proses belajar. Bekerja dan mengajar dibatasi oleh waktu dan umur, tetapi tidak dengan belajar.

Ilmu jauh lebih penting daripada harta. Inilah ucapan sayidina Ali tentang hal itu:
“Ilmu itu warisan para Nabi dan harta itu warisan Qarun, Syaddad, Fir’aun, dan lainnya. Ilmu menjagamu sedang engkau menjaga harta. Pemilik harta mempunyai banyak musuh dan pemilik ilmu mempunyai banyak teman. Apabila kau belanjakan hartamu, ia akan berkurang dan jika kau amalkan ilmu mu ia akan bertambah. Pemilik harta bisa di panggil si pelit dan menjadi hina, sedangkan pemilik ilmu di panggil dengan sebutan agung dan mulia. Pemilik harta akan di hisab pada hari kiamat, sedangkan pemilik ilmu akan memberi syafaat pada hari kiamat. Harta itu makin lama di diamkan makin bertambah usang, sedangkan ilmu tidak bisa lapuk dan usang. Harta bisa membuat hati menjadi keras, sedang ilmu itu menerangi hati. Pemilik harta di katakan sebagai pemilik dengan sebab harta, sedangkan orang yang berilmu mengaku sebagai Hamba Allah. Andaikata mereka bertanya tentang ini, niscaya akan ku jawab dengan jawaban yang lain selama aku masih hidup.”
Analogi lain yang lebih ekstrim adalah mengibaratkan ilmu sebagai air sumber pegunungan dan harta sebagai air lautan. Yang satu menyegarkan dan menyehatkan, sedangkan yang lain hanya menambah kehausan saja. Tentu saja dalam kenyataannya tidaklah seekstrim itu. ‘Jer basuki mawa bea’, harta diperlukan untuk menuntut ilmu, terutama ilmu-ilmu lahiriah. Tetapi untuk ilmu batiniah, memang harta tidaklah terlalu dibutuhkan, bahkan terkadang malah diharamkan. Harta perlu untuk hidup, dan harta diperoleh dengan bekerja. Meskipun demikian, seringkali bekerja melalaikan orang untuk selalu belajar. Maka bekerjalah sambil belajar, atau lebih baik lagi, bekerja yang belajar. Tak jarang juga yang mengatakan bahwa banyak harta akan memudahkan untuk beramal demi umat. Hal ini adalah benar, tetapi nasib manusia adalah di tangan Tuhan, rejeki ditanggung Tuhan, dan manusia hanyalah sekedar perantara. Dan bagaimanapun juga ilmu jauh lebih baik daripada harta.

Hal lain yang sering melalaikan orang dari belajar adalah mengajar. Betapa banyak orang yang sibuk mengajar sehingga lupa untuk belajar lagi. Jika seseorang mengajar satu, maka seharusnya dia belajar minimal satu lainnya, dan lebih baik lagi jika dia belajar lebih dari satu. Salah satu buku dari rak sebelah dengan tegas mencantumkan bahwa mengajar adalah salah satu dari sepuluh hambatan utama dari pencapaian kesucian pikiran. Tentu saja ini bukan berarti dilarang untuk mengajar, karena ilmu yang bermanfaat adalah satu dari tiga amal manusia yang tidak putus setelah mati. Mengajar sangatlah besar pahalanya, selama itu dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran bahwa ilmu adalah milik Tuhan, dan guru hanyalah sebagai perantara saja. Sehingga dalam berdakwahpun harus selalu disertai kesadaran bahwa: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (28:56). Mengajar tidak boleh melalaikan untuk terus belajar.

Lalu untuk apa belajar kalau tidak dimanfaatkan untuk bekerja atau mengajar? Tentu saja ilmu yang bermanfaat adalah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kegiatan bekerja dan mengajar. Tetapi manfaat yang sebenarnya adalah untuk diri sendiri, karena kelak manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri-sendiri. Manusia akan dinilai berdasarkan berat timbangan amalnya, berat amal sangat tergantung kepada kadar keimanan (innamal a’malu binniyat), dan kadar keimanan akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman dan ketinggian ilmunya. Belajar akan meluaskan wawasan manusia tentang hidup dan kehidupan. Belajar akan meningkatkan pemahaman tentang dirinya sendiri dan hubungan dengan Tuhannya. Dan itu semua akan menambah dan meningkatkan kadar keimanan. Maka hidup adalah belajar, belajar, dan belajar.

Referensi: dikutip dari sana sini.

Islam dan ISO

Mumpung masih bulan Ramadhan, ingin juga sedikit membahas yang berhubungan dengan agama, yaitu hubungan antara Islam dan ISO (International Organization for Standardization ). Tetapi ini hanya pemikiran saya, maaf sebelumnya apabila ada kesalahan atau yang kurang berkenan.


Di Islam ada satu surat yang paling utama yaitu Al Fatihah, yang menjadi surat pembuka dari Al Qur’an dan disebut sebagai Ummul Kitab. Surat ini wajib dibaca minimal 17 kali dalam sehari. Di dalam surat ini ada ayat ke 6 yaitu “Ihdinas sirotol Mustaqim” yang artinya “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Inilah satu-satunya doa yang diwajibkan untuk dibaca di Islam. Ada banyak penafsiran dari ayat ini, baik yang resmi maupun yang tidak resmi. Salah satu penafsiran yang menarik adalah bahwa jalan yang lurus yang dimaksud adalah lurusnya antara hati, pikiran, dan perbuatan. Atau dalam bentuk konkritnya bisa juga adalah lurusnya antara perkataan dengan perbuatan. Dan ajaran lurus ini bukanlah hal mudah untuk dilakukan, biarpun mudah diucapkan. Demikian sulitnya ajaran ini sehingga diumpamakan seperti berjalan di atas rambut dibelah tujuh. Contoh yang lagi rame adalah bahwa seorang ulama atau ustad seharusnya mengajarkan hidup zuhud, dan apakah hidup mereka zuhud?


Selanjutnya adalah hubungannya dengan ISO. ISO adalah badan penetap standar internasional yang terdiri dari wakil-wakil dari badan standarisasi nasional setiap negara, dan didirikan tahun 1947. Salah satu produk utamanya adalah ISO 9000 yang berisi kumpulan standar untuk sistem manajemen mutu. Prinsip dari manajemen mutu secara sederhana adalah “Tulis yang engkau lakukan, dan lakukan yang engkau tulis”. Dan prinsip ini ternyata sangat bersesuaian dengan ajaran Islam di atas. Sama seperti ajaran lurus di atas, prinsip ISO 9000 inipun terlihat mudah dituliskan, tetapi sangat sulit untuk ditaati diprakteknya.


Nah dari kedua prinsip di atas, maka kalau dihubung-hubungkan akan didapat kesimpulan: Ajaran tentang mutu ada di dalam Islam, dan oleh karena itu umat Islam harus menjadi umat yang bermutu dan harus selalu menjaga mutu. Contoh: kalau berbisnis janganlah sekali-kali mengurangi mutu, apalagi korupsi, karena itu adalah perbuatan yangtidak islami.


Referensi: ISO, “iso ra iso yo kudu iso” (motto)

PDCA (Plan, Do, Check, Action) Versi Sederhana

PDCA atau Plan, Do, Check, Action adalah metode yang umum yang digunakan untuk pengendalian mutu, peningkatan/perbaikan proses bisnis, atau pemecahan masalah. Metode ini dipopulerkan oleh W. Edwards Deming, bapak pengendalian kualitas modern, sehingga sering disebut juga sebagai siklus Deming.

 
http://qccindonesia.files.wordpress.com/2009/10/pdca.jpg?w=460

 
Siklus PDCA ini sudah lama diterapkan di negara-negara maju. Kunci keberhasilan penerapan metode ini terletak di kesungguhan dan disiplin dalam pelaksanaannya. Banyak perusahaan-perusahaan besar di negara ini yang serius menerapkan metode ini sebagai kunci dari kesuksesannya. Tetapi apakah metode ini sudah merakyat di negeri ini?

Saya tidak akan membahas secara lengkap metode ini karena memang saya bukan ahlinya. Saya akan membahasnya secara sederhana saja, yaitu versi sederhana, versi saya. Menurut saya pribadi, jangankan siklus PDCA secara lengkap dan berkesinambungan, bahkan fungsi P saja mungkin kita belum bisa melakukan dengan benar.

Seringkali kita merasa malas kalau disuruh membuat rencana. Banyak alasannya, antara lain: langsung saja dikerjakan nggak usah terlalu banyak rencana, atau buang-buang waktu saja toh nanti pasti pelaksanaannya meleset jauh, atau beribu alasan lain. Akhirnya kitapun membuat rencana secara asal-asalan saja yang penting ada. Ini adalah suatu mental yang sangat disayangkan, karena rencana yang matang pasti akan sangat banyak membawa kemudahan. Rencana memang tidak harus tepat 100%, tetapi tetap harus dikerjakan secara sungguh-sungguh. Demikianlah sikap profesional itu. Dan itulah yang membedakan antara yang maju dengan yang terbelakang. Karena rencana yang asal-asalan pasti akan menimbulkan banyak pemborosan dalam pelaksanaannya.

Contoh sederhana: Apabila kita hendak pergi mengunjungi beberapa tempat, pasti kita akan merencanakan urut-urutan termudahnya. Karena apabila tidak, maka akan banyak terjadi pemborosan waktu, tenaga, dan bensin akibat jalannya yang bolak-balik tidak karuan. Contoh lain dari kurangnya budaya perencanaan adalah di lingkungan pemerintahan. Bagaimana mungkin jalan yang sama berkali-kali dibongkar untuk berbagai macam proyek mulai dari irigasi, PDAM, dan entah apa lagi. Bukankah itu benar-benar pemborosan terhadap uang negara yang berarti uang rakyat juga? Begitu sulitnyakah melakukan koordinasi dan perencanaan di birokrasi pemerintahan?

Metode siklus PDCA sangat bermanfaat untuk diterapkan baik di level pemerintahan, perusahaan, atau bahkan di level individu. Tetapi bagaimana mungkin bisa menerapkan siklus PDCA secara benar, kalau baru sampai P saja sudah macet.

Jumlah Kebahagiaan di Kompasiana

Iseng-iseng searching kata 'kebahagiaan' di Kompasiana, ternyata mendapat 88.500 hasil.
1343628136969447898

Jumlah yang cukup besar, mengingat jumlah kompasianers adalah 127.068 akun.
13436289631180221357

Nah kalau diganti dengan 'bahagia', maka akan diperoleh 156.000 hasil.
13436294825766131

Mengingat begitu banyaknya akun klonengan, yang kemungkinan besar adalah akun ganda, maka bolehlah diambil kesimpulan rata-rata bahwa hampir setiap kompasianer pernah menulis artikel tentang bahagia dan kebahagiaan.
Nah kalau searchingnya di google, maka hasilnya adalah angka-angka yang fantastis sbb:
13436329131958078169

Maka dapatlah disimpulkan bahwa perkara bahagia dan kebahagiaan akan selalu aktual, inspiratif, bermanfaat, dan menarik. Setiap orang punya cara pandang masing-masing, yang tidak jarang ada kemiripan satu dengan lainnya. Tetapi manusia adalah unique, biarpun dia adalah kembar identik. Tidak ada yang benar-benar sama. Demikian pula dengan cara pandang dan pendefinisian tentang bahagia dan kebahagiaan, setiap orang pasti akan berbeda di detailnya. Dan ini adalah bagus karena setiap orang bisa saling belajar satu sama lain. Maka cara pandang terhadap bahagia dan kebahagiaanpun seharusnya berkembang sesuai dengan perkembangan jiwa seorang manusia. Tidak ada yang paling benar, yang ada adalah yang paling sesuai dengan kondisinya masing-masing. Maka teruslah update definisimu tentang bahagia dan kebahagiaan.

Kerja Keras, Kaya, Takdir, dan Socrates

Ini hanya otak atik matuk versi saya saja, jangan terlalu dianggap serius, yaitu hubungan antara kerja keras dan kaya sebagai berikut:
  1. Ada orang yang bekerja keras dan kaya. Ini adalah hal yang umum, tetapi terus terang saja mungkin jumlahnya sedikit karena bukankah orang kaya memang lebih sedikit dibandingkan yang tidak kaya.
  2. Ada orang yang tidak bekerja keras dan kaya. Biarpun jumlahnya juga sedikit karena alasan yang sama seperti di atas, tetapi yang begini ini memang ada. Contoh: anak orang kaya, dapat undian, atau yang punya hoki baik sehingga hidupnya lancar-lancar saja sampai kaya raya.
  3. Ada juga yang bekerja keras tapi nggak kaya-kaya. Mungkin ada bilang itu karena kerjanya kurang cerdas, ya mungkin saja, tetapi belum tentu juga begitu karena di dunia ini banyak sekali faktor x-nya. Pokoknya yang seperti ini ada banyak sekali.
  4. Lalu yang malas kerja keras dan memang tidak kaya. Kalau yang ini sih kelihatannya tidak perlu dibahas.

Kalau melihat komposisi di atas, maka korelasi antara kerja keras dan kaya jadi meragukan. Apalagi jika teringat suatu ungkapan bahwa "Jodoh, rejeki, dan umur ada di tangan Tuhan", maka akan semakin pesimis saja jadinya. Tentu saja mereka yang termasuk golongan nomer 1 akan menolak keras pesimisme ini. Dan tentu saja kalau dilihat dari probability, maka bekerja keras dan menjadi kaya jelas probabilitynya jauh lebih besar daripada yang tidak bekerja keras. Tetapi tetap saja itu tidak akan bisa menghilangkan faktor-faktor x dalam kehidupan yang biasanya diwakili dengan kata 'takdir'.

Ada suatu ungkapan dari Socrates yang mungkin bisa dihubungkan dengan perkara takdir kaya ini. Socrates mempertanyakan perkara kekudusan seperti ini: Apakah orang-orang kudus itu disukai para dewa karena kekudusannya? Ataukah mereka menjadi kudus karena disukai oleh para dewa? Atau dengan kata lain kudus dulu atau disukai dewa dulu. Nah kalau dihubungkan dengan perkara takdir 'kaya karena bekerja keras', maka pertanyaannya menjadi:
Apakah karena orang kaya ditakdirkan menjadi kaya makanya mereka juga ditakdirkan untuk bekerja keras? Ataukah karena mereka bekerja keras makanya mereka menjadi kaya?

Ada salah satu keyakinan bahwa jika ingin menjadi kaya, maka berkelakuanlah seperti orang kaya. Nah jika konsep takdir yang berlaku adalah seperti di pertanyaan yang di depan, maka perilaku kaya bisa menjadi blunder. Bagi orang yang ditakdirkan kaya, maka berperilaku kaya akan memicu dan memotivasinya untuk bekerja keras menjadi orang kaya. Tetapi jika seseorang ditakdirkan tidak kaya, maka berperilaku kaya adalah merupakan suatu pemborosan dan suatu tindakan yang bisa berakibat negatif.

Entah prinsip mana yang benar, itu semua tergantung dari keyakinan masing-masing. Teori kaya seseorang belum tentu berhasil jika diterapkan kepada orang lain. Berkutat di persoalan kekayaan, belum tentu juga membawa kebaikan. Bagi saya sendiri, saya memilih untuk meninggalkan persoalan itu. Saya merasa bahwa hidup saya akan terasa sempit jika hanya memikirkan perkara kekayaan. Tetapi itu hanya menurut saya saja, dan setiap orang berhak untuk memiliki keyakinannya sendiri-sendiri. Yang pasti, bekerja keras adalah perilaku yang terpuji yang pasti bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan, dan manfaat itu tidaklah harus berupa kekayaan harta. Dan itu harus dijadikan suatu kebiasaan sejak muda.

Diet Makanan Ala Yogi

Puasa-puasa iseng-iseng jalan-jalan lihat-lihat buku-buku yang kuno-kuno. Tiba-tiba mata tertarik dengan buku tentang yoga. Nah ternyata bukan hanya orang Islam saja yang punya diet makanan seperti puasa, tetapi para yogipun sangat ketat dalam mengatur diet makanannya. Berikut langsung saja dicopas:
Makanan mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi seluruh tubuh. Sebaiknya anda makan lebih banyak sayuran dan menghindari makanan yang berlemak. Cukup banyak orang spiritual yang hanya makan sayuran semata. Walaupun hal ini bukan merupakan syarat mutlak, makan lebih sedikit daging khususnya yang berlemak, membuat seluruh lapisan tubuh menjadi lebih bersih. Untuk daging sendiri, perlu diketahui bahwa daging dari beberapa binatang mempunyai energi yang lebih kotor secara eterik. Makan daging binatang tersebut cenderung membuat lapisan-lapisan tubuh menjadi lebih kotor. Urutan daging yang terjelek adalah:
  • Babi
  • Belut dan Ikan Lele
  • Kambing
  • Sapi
  • Ayam/Bebek

Jadi, para yogi sangat dianjurkan untuk menjadi vegetarian. Di artikel lain disebutkan bahwa kegemaran manusia mengkonsumsi daging ternyata berpengaruh terhadap global warming. Ini karena jumlah peternakan yang bertambah banyak, sehingga menambah polusi limbahnya, penebangan pohon dan pembukaan ladang-ladang rumput, dan seterusnya. Diperkirakan bahwa produksi daging dan susu menghasilkan lebih dari 51% emisi gas rumah kaca di dunia, referensi di sini.

Mari kita kurangi makan daging, dan perbanyak makan sayuran.

Aku Nggak Mau Terlalu

Aku nggak mau terlalu keras atau terlalu lembek, karena aku bukan batu juga bukan bubur, aku mau yang biasa-biasa saja, yang pas-pas saja.

Aku nggak mau terlalu panas atau terlalu dingin, karena aku bukan api juga bukan es, aku mau yang hangat normal saja.

Aku nggak mau terlalu kaya atau terlalu miskin, karena terlalu kaya seperti memanggul beban di atas kepala dan terlalu miskin seperti menyeret beban sepanjang jalan, aku mau yang cukup-cukup saja.

Aku nggak mau terlalu kuat atau terlalu lemah, karena aku nggak mau menindas atau ditindas orang lain, aku ingin sehat kuat yang umum saja.

Aku nggak mau terlalu baik atau terlalu jelek, karena aku takut dipuja atau dibenci, aku mau yang sedang-sedang saja, yang bebas-bebas saja.

Aku nggak mau terlalu lurus atau terlalu bengkok, karena aku bukan penggaris juga bukan busur, aku manusia biasa.

Aku nggak mau 'terlalu' pintar atau terlalu bodoh, karena aku nggak mau minterin orang lain ataupun dibodohin orang lain, aku ingin pintar lahir dan batin saja.

Aku nggak mau terlalu mudah atau terlalu sulit, karena terlalu mudah membuatku cenderung meremehkan dan kurang bersyukur, sedangkan terlalu sulit membuatku berkeluh kesah dan lupa bersyukur, aku ingin yang sewajarnya saja.

Pokoknya aku nggak mau terlalu ke kiri ataupun terlalu ke kanan, aku ingin di tengah-tengah saja, itu lebih aman. Kalaupun suatu waktu terlihat aku agak condong ke kiri atau agak condong ke kanan, pasti itu karena kondisi darurat saja. Atau mungkin aku sedang lupa, nantipun kalau sudah ingat pasti akan ke tengah lagi. Harap maklum.

Bejo Ganti Tubuh, Tetap Bejo Atau Jadi Lucky?

Sambil nunggu azan maghrib, paling enak ngelamun:

Misalkan tahun 3000, teknologi kedokteran sudah demikian majunya. Orang bukan hanya bisa ganti/cangkok jantung atau organ tubuh lainnya seperti sekarang, tapi sudah bisa mengganti seluruh onderdil tubuh. Mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut sudah bisa diproduksi masal, dan setiap orang bisa sewaktu-waktu mengganti onderdil tubuhnya, tinggal pilih produksi mana dan kw berapa.

Dikisahkan ada orang Indonesia bernama Bejo. Dia merasa tubuhnya sudah tidak fit lagi, dan sudah saatnya untuk mengganti seluruh tubuhnya dengan onderdil yang baru. Karena Bejo ini kaya raya, maka dia memilih untuk menggunakan onderdil yang kw 1,  made in usa. Maka Bejopun menjalani serangkaian tahapan operasi untuk mengganti seluruh tubuhnya. Setahap demi setahap dan setelah jangka waktu tertentu, maka Bejopun menjelma menjadi sosok yang berbeda jauh dari Bejo yang sebelumnya. Bejo yang sekarang lebih mirip orang bule dibandingkan dengan orang Indonesia.

Nah yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Bejo masih tetap Bejo yang dulu? Ataukah otomatis Bejo telah berubah menjadi Lucky? Kalau menurut saya sih Bejo ya masih tetap Bejo yang dulu, hanya fisiknya saja yang berubah, tetapi segala sesuatu yang non-fisik masih tetap Bejo yang dulu. Nah jika setuju dengan pendapat saya, maka dapat disimpulkan bahwa Bejo yang sesungguhnya adalah yang non-fisik. Sedangkan fisik Bejo tak lain tak bukan hanyalah wadahnya belaka. Tapi itu hanya menurut saya saja kok.

Hukum Dualisme

Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Laki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin, baik-buruk, positif-negatif, malaikat-setan, dan seterusnya. Filsafat cina menyebutnya sebagai yin-yang, di jawa-hindu lingga-yoni, dan seterusnya di seluruh dunia punya filsafat dualisme ini.

Saya sendiri bukan ahli yang akan menerangkan hukum dualisme ini, saya hanya memberikan contoh yang saya mengerti yaitu panas-dingin. Seperti yang kita ketahui, angin terjadi karena ada perbedaan tekanan udara akibat adanya perbedaan suhu. Angin mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, atau dari suhu rendah ke suhu tinggi. Angin membawa kehidupan di muka bumi, membawa benih tumbuhan untuk berkembang di tempat lain, dan seterusnya. Bayangkan bila suhu di muka bumi sama semua, maka semuanya akan berhenti, tidak ada lagi kehidupan. Kira-kira demikianlah Tuhan menciptakan dualitas, agar terjadi suatu dinamika pergerakan, agar kehidupan bisa berlangsung.

Tuhanlah tidaklah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia (44 : 38-39). Perbedaan yang diwujudkan dalam hukum dualitas diciptakan Tuhan dengan suatu tujuan, maka demikian juga dengan perbedaan-perbedaan lainnya. Tuhan menciptakan semua perbedaan dengan hikmah-hikmah di baliknya. Semuanya tidak diciptakan secara sia-sia. Manusialah yang membuatnya sia-sia.

*dirangkum dari sumber-sumber dari mana saja

Mencari Teman Seidealisme

Manusia itu makhluk sosial, senang berteman, bukan hanya teman kumpul-kumpul, teman bercanda, teman bekerja, tapi juga teman se-idealisme. Biasanya, sejauh apapun perbedaan seseorang, jika idealismenya sama, maka akan jadi teman yang akrab. Tetapi anehnya, jika bertemu dengan orang lain yang idealismenya tidak sama, atau bahkan berlawanan, maka tidak jarang akan terjadi perselisihan. Bahkan tak jarang akan terjadi tawuran, baik di dunia nyata, maupun di dunia maya. Nah, kenapa orang senang mencari teman se-idealisme dan bermusuhan dengan yang berlawanan idealismenya?

Salah satu teori yang mungkin bisa dihubung-hubungkan untuk menjelaskan pertanyaan di atas mungkin adalah teori Zona Nyaman. Setiap orang saat ini pasti sedang berada di zona nyamannya sendiri-sendiri, disadari ataupun tidak, diakui ataupun tidak, disukai ataupun tidak. Sangat jarang ditemukan orang yang sedang berusaha berpindah dari zona nyamannya sendiri. Kalaupun dia berpindah, pasti ada sesuatu yang memaksa dia untuk pindah. Kebanyakan manusia malas untuk pindah, terutama karena mempertimbangkan faktor resiko. Untuk apa harus meninggalkan zona nyaman, sedangkan zona yang baru belum tentu lebih nyaman, malah bisa-bisa terperosok ke zona yang sangat tidak nyaman. Padahal secara teoritis, biarpun ada zona yang kurang nyaman dibandingkin dengan zona yang ditempati saat ini, pasti juga ada zona yang lebih nyaman di luar sana.

Demikian juga dengan idealisme. Jika seseorang sudah merasa nyaman dengan idealismenya saat ini, pasti sulit bagi dia untuk bergeser ke idealisme baru yang lebih baik. Padahal ilmu Tuhan itu tidak ada batasnya, dan tugas manusia adalah untuk belajar terus seumur hidupnya, maka seorang manusia selayaknyalah untuk selalu bergeser ke idealisme baru yang lebih baik hari demi hari. Meninggalkan zona nyaman lamanya menuju ke zona nyaman baru yang lebih baik, setapak demi setapak. Seperti filsafat anak tangga pembelajaran kehidupan, naik selangkah demi selangkah, anak tangga demi anak tangga, perlahan demi perlahan dengan penuh kehati-hatian.

Seiring dengan pertambahan usia, maka orang akan semakin arif menghargai perbedaan idealisme, karena menyadari bahwa setiap orang berada pada tingkatannya masing-masing yang tak selayaknya untuk dibanding-bandingkan. Tetapi tidak demikian dengan yang masih berjiwa muda. Jiwa muda adalah jiwa yang berapi-api tetapi juga masih sangat labil, penuh dengan perjuangan mencari jati diri. Kelabilan berarti membutuhkan suatu pegangan dan pijakan yang berupa zona nyaman. Mencari teman se-idealisme adalah untuk menguatkan dan meyakinkan diri sendiri dengan zona nyamannya. Sedangkan semangat yang masih berapi-api inilah yang menyebabkan jiwa muda untuk cenderung menyerang orang lain yang bertentangan idealismenya, karena dipandang bisa menggoyahkan zona nyamannya. Biasanya kelabilan ini akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Semakin tua seseorang, biasanya dia akan semakin toleran. Jika seseorang seumur hidupnya bersikeras mempertahankan idealisme yang sama, tanpa mau berubah sama sekali, meskipun itu adalah perubahan ke arah yang lebih baik, maka itulah hidup yang sia-sia.

*dirangkum dari sumber-sumber yang sudah lupa entah dari mana

Ad Hominem

Terus terang saya baru mengerti istilah ini setelah ikutan di kompasiana. Dari Wikipedia: Ad hominem (yang berarti "tertuju pada pribadi atau karakter seseorang"), yang merupakan singkatan dari argumentum ad hominem, adalah upaya untuk menyerang kebenaran suatu klaim dengan menunjuk sifat negatif orang yang mendukung klaim tersebut. Penalaran ad hominem biasanya dipandang sebagai kesesatan logika.

Intinya adalah dalam berdiskusi dilarang untuk ad hominem, karena itu akan mengaburkan kebenaran dari permasalahan yang dibahas. Bahasa lainnya adalah "don't judge the book from the cover", atau 'jangan melihat siapa yang berbicara tapi lihatlah apa yang dia bicarakan'. Ini adalah prinsip yang utama di kalangan akademisi atau cendikiawan, tetapi tentu saja prinsip ini sulit untuk diterapkan di masyarakat umum.

Sudah menjadi kebiasaan di masyarakat untuk melihat 'siapa yang berbicara' dulu, baru kemudian melihat 'apa yang dibicarakan'. Jelas ini bukan suatu sikap yang bisa dibenarkan, tetapi juga tidak bisa disalahkan 100%. Ini juga disebabkan oleh daya nalar masyarakat yang sangat beragam dan terbatas, maka sikap ad hominem inipun akhirnya dijadikan semacam filter. Dan untuk beberapa cabang keilmuan, ad hominem benar-benar sulit dihindari, misalnya di ilmu agama. "Sebaik-baiknya nasehat adalah dengan memberikan contoh". Bagaimana mungkin seseorang menyuruh orang lain sholat atau puasa, sedangkan dia sendiri tidak melakukannya. Apa yang dia sampaikan mungkin benar dan tidak ada salahnya, tetapi tetap saja terasa ada sesuatu yang aneh dan lucu. Maka, menurut orang awam seperti saya, mungkin seperti inilah hubungan antara ad hominem dan cabang keilmuan:

134275257726029923

Keistimewaan Wanita

Seorang lelaki datang menemui Rasulullah dan bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik-baiknya?” Rasulullah menjawab: “Ibu kamu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”  Rasulullah menjawab: “Ibu kamu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab: “Ibu kamu.”  Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”  Rasulullah menjawab: “Ayah kamu.”

Hadist di atas sangat terkenal dan menunjukkan betapa istimewa dan tinggi derajat seorang wanita di hadapan Rasulullah, dan tentu saja juga di hadapan Tuhan. Apa yang menyebabkan begitu tingginya derajat seorang wanita dari hadist tersebut terlihat bahwa kuncinya terletak di hubungan antara ibu dan anak. Bahwa si anak harus tiga kali lipat menghormati ibunya dibandingkan dengan ayahnya.

Keistimewaan seorang wanita ini, menurut saya, mungkin bisa dirangkum menjadi dua kata yaitu sifat keibuan. Seorang ibu mempunyai sifat mengasihi tanpa batas dan tanpa harap balas terhadap anaknya. Seorang ibu rela melakukan pengorbanan dan menjalani penderitaan apapun demi anaknya. Dan banyak lagi sifat-sifat keibuan yang sulit dijelaskan, tetapi yang jelas belum tentu seorang ayah memilikinya.


Sifat keibuan secara alamiah pasti dimiliki oleh seorang wanita. Tidak harus seorang wanita mempunyai anak dulu sebelum muncul sifat keibuannya. Sifat keibuan bisa juga diterapkan selain ke anak kandung, misalnya kepada anak yatim piatu, bahkan kepada makhluk lain maupun lingkungannya. Contoh adalah hadist tentang seorang pelacur yang masuk surga karena dia telah mengorbankan nyawanya untuk memberi minum seekor anjing. Sifat keibuan inilah yang akan membawa seorang wanita ke derajat yang tinggi di hadapanNya. Oleh karena itu, penting untuk menanamkan pelajaran tentang sifat-sifat keibuan ini sedari kecil terhadap anak-anak perempuan, untuk selalu menjaganya di saat remaja, di saat dewasa, bahkan sampai tua. Ibarat main kartu, maka sifat keibuan adalah kartu truf seorang wanita yang harus selalu dimiliki dan dijaga. Maka janganlah sampai sifat-sifat keibuan ini tertutupi dan tertimbun oleh apapun di sepanjang hidup seorang wanita.

Hobby Kok Korupsi

Menurut Wikipedia: Hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Tujuan hobi adalah untuk memenuhi dan mendapatkan kesenangan. Jadi mempunyai suatu hobi adalah baik bagi kesehatan jiwa seseorang.

Nah saya curiga bahwa jangan-jangan korupsi itu sudah menjadi semacam hobi baru di Indonesia. Orang melakukan korupsi bukan karena butuh lagi, tapi karena iseng untuk mengisi waktu luang, dan untuk memenuhi dan mendapatkan kesenangan. Korupsi sudah dianggap semacam rekreasi yang menenangkan pikiran, malah kalau nggak korupsi justru pikiran akan kacau.

Masalahnya adalah pada umumnya hobi itu baik untuk diri sendiri dan tidak merugikan orang lain. Sedangkan korupsi mungkin dipandang baik untuk diri sendiri, tetapi jelas-jelas merugikan orang lain. Untuk itu saya menyarankan kepada para koruptor agar lebih kreatif dalam memilih hobi. Hobi lain yang bisa dipertimbangkan sebagai pengganti korupsi adalah:

Hobi yang tidak merugikan orang lain. Contoh: Memancing. Biarpun memancing menurut saya merugikan atau menyakiti makhluk hidup lain, tapi tidak merugikan orang lain. Selama yang dipancing masih ikan, bukan memancing di air keruh, atau memancing keributan.

Hobi yang bermanfaat bagi orang lain atau lingkungan. Misalnya: Berkebun, menanam pohon penghijauan, mengumpulkan ranjau paku, atau mengambili sampah di jalan-jalan dan di sungai-sungai. Khusus untuk sampah ada baiknya untuk koordinasi terlebih dahulu dengan pemulung, kecuali sampah masyarakat yang pasti tidak akan diambil oleh mereka.

Hobi-hobi yang lain. Hobi apa sajalah yang penting tidak merusak diri sendiri dan orang lain atau lingkungan. Yang jelas jangan hobi korupsi, itu namanya kurang kreatif, masak korupsi dijadikan hobi.
[Ke Atas]